Selasa, 27 Januari 2015

Makam Ki Gede Gamel Cirebon

Makam Ki Gede Gamel terlewati ketika kami sedang dalam perjalanan dari Makam Sunan Gunung Jati menuju daerah sentra Batik Trusmi di Plered, Cirebon, melalui sebuah jalan tembus (lihat peta Google pada akhir tulisan) yang kondisi jalannya cukup baik. Nama depan Ki Gede Gamel ini mengingatkan saya pada tokoh-tokoh dalam cerita silat Jawa karangan mendiang SH Mintardja, baik di kisah legendaris Nagasasra – Sabuk Inten maupun cerita Api Di Bukit Menoreh.
Di dalam cerita itu ada nama-nama seperti Ki Ageng Gajah Sora, Ki Ageng Pengging Sepuh, atau Ke Ageng Sora Dipayana dalam kisah Nagasasra – Sabuk Inten. Ada pula nama-nama Ki Gede Pemanahan, dan Ki Gede Menoreh di cerita Api Di Bukit Menoreh. Ki Gede atau Ki Ageng adalah sebuah gelar atau panggilan yang sering diberikan kepada orang yang dihormati, dituakan, atau memiliki suatu kedudukan di dalam sebuah komunitas, dan biasanya mereka berasal dari keturunan rakyat biasa atau keturunan raja yang telah menanggalkan kebangsawanannya.
Makam Ki Gede Gamel
Sebuah pohon beringin dengan batang sangat besar di halaman Makam Ki Gede Gamel ini menjadi sebuah penanda bahwa Makam Ki Gede Gamel sudah berusia tua. Sebuah musholla tampak di latar belakang yang terlihat melalui lengkung gapura yang unik.
Makam Ki Gede Gamel
Anak-anak beraksi di belakang sepasang tembok gapura Makam Ki Gede Gamel yang terbuat dari susunan bata merah. Gapura Makam Ki Gede Gamel ini tidak dibuat menjulang tinggi, namun dihubungkan dengan sebuah lengkung setengah lingkaran yang dipuncaknya terdapat ornamen seperti sebuah mahkota.
Makam Ki Gede Gamel
Balai panjang beratap welit dengan 6 tiang penyangga ini konon adalah warisan Ki Gede Gamel atau Ki Suradinata, yang merupakan salah satu pengikut Sunan Gunung Jati. Balai panjang ini dulunya dipakai sebagai tempat pertemuan para tokoh-tokoh agama. Tiang penyangga tengah di sebelah kanan terlihat tebal karena dibungkus oleh 17 lilitan kain.
Makam Ki Gede Gamel
Makam Ki Gede Gamel tampaknya berada di sebelah ujung kompleks pemakaman ini, terlihat dari gapura putih serta tembok keliling di latar belakang foto di atas. Entah apa yang ada di belakang sana, karena saya tidak sempat masuk ke dalam kompleks Makam Ki Gede Gamel ini.
Sebagaimana yang dilakukan masyarakat pada Kramat Buyut Trusmi, masyarakat Desa Gamel dan Desa Sarabau juga melakukan kegiatan tradisi tahunan membuka dan mengganti welit balai peninggalan Ki Gede Gamel ini, yang melibatkan sampai sekitar 1.500 warga. Selain bertujuan menjaga warisan leluhur, tradisi tahunan ini juga dimaksudkan untuk menjaga kebersamaan dan silaturahmi diantara warga.
Sumber :  http://www.thearoengbinangproject.com/makam-ki-gede-gamel-cirebon/

0 komentar:

Poskan Komentar