Sabtu, 03 Januari 2015

Festival Muludan Cirebon Masuk Agenda Internasional



 Festival Muludan Cirebon masuk agenda Internasional (Foto: Jakartacitylife)

CIREBON - Even Muludan yang digelar di Keraton Kasepuhan Cirebon akan dimasukkan kalender wisata nasional, bahkan Internasional.
Tahun depan, nama gelaran dilaksanakan jelang Maulid Nabi Muhammad SAW ini diubah menjadi Festival Grebeg Muludan.
Muludan hingga kini mengacu pada semacam pasar rakyat yang digelar di sekitar Keraton Kasepuhan. Muludan dilaksanakan rata-rata sebulan, kemudian digelar tradisi Panjang Jimat. Tahun ini upacara panjang jimat diagendakan 3 Januari 2015.
Sultan Keraton Kasepuhan Sultan Sepuh XIV Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat mengatakan setiap tahun Muludan ramai pengunjung yang tak terbatas dari Wilayah Cirebon. Bukan hanya pengunjung, jumlah pedagang dari berbagai daerah bermaksud menjajakan barangnya bertambah setiap tahun. Dia menyebut, Muludan 2015 menjadi momentum istimewa.
"Tahun 2015 muludan terasa istimewa karena puncaknya berlangsung dua kali setahun, yakni pada 3 Januari serta 24 Desember," katanya.
Keistimewaan itulah yang dijadikan momentum perubahan nama kegiatan menjadi Festival Grebeg Muludan untuk tahun berikutnya. Arief menjanjikan, perubahan nama disertai pembenahan konsep kegiatan tersebut.
Pada Festival Grebeg Muludan, selain diisi beragam jenis dagangan yang biasa hadir akan digelar ekspo aneka produk dari daerah di Wilayah Cirebon, seperti Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, Indramayu, Majalengka, maupun Kuningan. Untuk ini, Arief berkoordinasi dengan pemerintah daerah.
Arief meyakinkan, even muludan berpotensi ekonomi besar dengan prediksi perputaran uang Rp7,5 miliar selama satu bulan pelaksanakannya. Setidaknya seribu pedagang, baik besar maupun kecil, menjajakan barang dagangannya mulai dari produk fashion, makanan, alat-alat rumah tangga, mainan, hingga arena permainan.
Asumsi itu diperoleh dari perhitungan omzet rata-rata pedagang, baik besar maupun kecil yang bisa meraup keuntungan Rp250 ribu/hari/pedagang. Jika terdapat seribu pedagang, maka dalam sehari tercapai omzet sekira Rp250 juta/hari. Nilai itu dikalikan 30 hari atau satu bulan penyelenggaraan muludan, diperolehlah hitungan Rp7,5 miliar.
"Muludan kali ini bertepatan dengan libur sekolah yang berpotensi berdampak peningkatan pendapatan para pedagang 10 persen sampai 20 persen," tambah dia.
Meski perputaran uang besar, dia mengaku pihak keraton dalam kegiatan itu sebatas menyediakan tempat bagi pedagang mendirikan stand. Dengan kata lain, keuntungan finansial yang diperoleh Keraton Kasepuhan selama Muludan hanyalah dari penyewaan lahan.
Keraton sendiri menyewakan lahan untuk setiap pedagang dengan harga beragam, mulai dari Rp100 ribu sampai Rp700 ribu, tergantung luasnya. Total, pihaknya memperoleh sekira Rp250 juta dari sewa lahan pedagang selama sebulan Muludan.
Ditemui terpisah, Kepala Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon Dana Kartiman menyatakan Muludan merupakan even wisata tahunan khas Cirebon yang menyedot banyak orang.
Selain pengunjung pasar muludan itu sendiri, di antara mereka ada pula para peziarah yang mengkhususkan diri datang untuk berziarah ke Cirebon saat Maulid Nabi Muhammad SAW.
"Tahun 2025 Jawa Barat ditarget menjadi objek wisata terbaik Internasional. Untuk itu, menjadi tugas bersama mengemas wisata Kota Cirebon, salah satunya muludan, menjadi lebih menarik," tutupnya.
(jjs)
Sumber :  http://lifestyle.okezone.com/read/2014/12/23/406/1082841/festival-muludan-cirebon-masuk-agenda-internasional


0 komentar:

Poskan Komentar