Senin, 01 November 2010

Modernisasi Semu Tarling Dangdut Organ Tunggal



Sungguh kesan dangkal tak terhindarkan dalam “tarian” penyanyi panggung itu. Berbalut T-Shirt gemerlap yang ketat berjaring-jaring laksana rockstar, rok mini hitam pemacu adrenalin, dibantu dengan make-up tebal sebagai penyamar noda di wajah, sang biduanita yang semula tampak kalem mulai menggelinjang begitu musik tarling dangdut itu memasuki reffrain. Eksplorasi diri dan pangung tampaknya menjadi salah satu keunggulan dari sedikit kelebihannya sebagai penyanyi. Dua salon di bagian tengah dan samping panggung menjadi korbannya saat “goyang gergaji patah-patah” dengan posisi satu kaki di atas pengeras suara itu. Tampaklah hotpents hitam di pangkal kaki indah pedangdut berambut pirang itu. Di hadapan panggung, anak-anak kecil beserta beberapa ibu yang berkerudung itu tetap santai menonton sembari menikmati hidangan, bersama para bapak yang sedari tadi matanya tertancap dalam di beberapa bagian daya pikat utama diri bintang panggung pantura itu.

Masyarakat menyebut pertunjukan itu sebagai “organ tunggal”, yang dalam dua dekade terakhir merajai suguhan utama dalam resepsi hajatan, entah itu pernikahan ataupun khitanan. Sebagai sebuah pertunjukan hiburan, pada dasarnya ia terdiri atas instrumen-instrumen live music pada umumnya. Ada beberapa kru panggung, pemain-pemain musik band plus perkusi tradisional dan suling, dan tentunya satu atau beberapa penyanyi yang menjadi garda depannya. Hal yang menjadi pertanyaan adalah mengapa pertunjukan ini diidentifikasi sebagai organ tunggal, padahal jikapun hanya ada alat musik tunggal yang bermain, itu hanya keyboard? Dan kenapa pula ada sebutan tarling meskipun musik yang dimainkan jauh dari pakem tarling tradisional?

Salah Identifikasi

Organ pada dasarnya adalah sebuah alat musik tiup yang bunyinya dihasilkan dari dorongan udara yang dipompa dari pipa. Pada organ klasik yang biasa terdapat di gereja-gereja sebagai pengiring liturgi, digunakan semacam pedal untuk menghasilkan bunyi, untuk kemudian diatur oleh tuts keyboard agar menghasilkan resonansi yang harmonis, dan pipa berbagai ukuran untuk menghasilkan tinggi rendahnya nada. Betapa rumit konstruksinya memang, meski itu telah disederhanakan dalam bentuk piano serupa lemari meja belajar yang dipopulerkan Yamaha di Indonesia pada dekade 70-an. Kerumitan konstruksinya berbanding lurus dengan sisi finansialnya. Sehingga tak heran ia kemudian lebih menjadi simbol prestise daripada kelihaian memainkan nada.

Kehadiran teknologi dalam dunia musik kemudian memberi konsekuensi logis pula bagi kreasi musik. Dekade 80-an mulai hadir keyboard combo dengan rhytm box-nya, tanpa ada lemari dan pedal kaki. Bunyi alat-alat musik bisa ditiru dengan nyaris sempurna dan disimpan, untuk kemudian dapat dimainkan kembali. Puncaknya pada akhir milenium ke-2, dengan kehadiran keyboard sebagai synthesizer yang bisa menghasilkan beratus-ratus bunyi tiruan. Pertunjukan musik pun menjadi lebih efisien, karena bunyi-bunyian alat musik modern hingga tradisional telah terrangkum dalam satu alat. Teknologi patern pada alat musik ini selain bisa menyimpan suara imitasi, juga memungkinkan untuk berkreasi dengan irama. Sehingga tak hanya rock, jazz, ataupun pop, tetapi juga memungkinkan untuk mengkreasikan irama yang belum tersedia, seperti dangdut, keroncong, dan irama sunda. Karena keunggulannya itulah kehadiran keyboard digital dalam seni pertunjukan ini semakin mengikis eksistensi seni-seni pertunjukan tradisional yang masih memakai instrumen yang rumit, seperti orkes melayu, dangdut, dan bahkan band.

Dari uraian di atas, sepertinya cukup terang mengenai kesalahan penamaan yang terlanjur beredar di masyarakat pada seni pertunjukan yang menggunakan keyboard elektrik sebagai instrumen musik utamanya. Karena seharusnya bukan bernama “organ tunggal”, tetapi “keyboard tunggal”. Dan pemainnya pun lebih cocok disebut sebagai instrumentalis, atau bahkan bisa saja operator musik, tergantung dari seberapa handalnya ia meramu melodi secara manual tanpa bergantung pada teknologi.

Keterlanjuran dalam kesalahan pun terjadi pada identifikasi musik tarling. Bahwa semua musik pertunjukan yang berirama dangdut berbahasa cirebonan, yang dilakukan grup organ tunggal adalah tarling.

Perspektif sejarah memperlihatkan bahwa tarling merupakan seni rakyat pesisir ujung timur laut Jawa Barat yang berisikan musik dan drama pendek. Meski tak cukup jelas asal-usulnya, kesenian ini mulai menampakkan diri dalam budaya massa di tahun 50-an, melalui acara “Irama Kota Udang” yang disiarkan RRI. Diketahui kemudian bahwa namanya berakar dari akronim gitar dan suling, dua instrumen utama dalam musik ini. Selain kedua alat itu, pertunjukan tarling biasanya diiringi pula oleh saron, gong, perkusi, dan beberapa alat musik gamelan lainnya.

Merajalelanya dangdut di era 80-an membuat musik tradisional pesisir utara ini semakin tersingkir dari popularitasnya. Hal tersebut memaksa para seniman tarling untuk menyesuaikan dengan tuntutan pasar dengan memasukan unsur-unsur dangdut, beserta instrumen modern keyboard tunggal itu ke dalam pertunjukannya. Satu-persatu unsur tradisional dalam tarling tersingkir, yang hingga kini hanya menyisakan lagu berbahasa lokal sebagai cirinya. Strategi itu membuahkan hasil dengan semakin membanjirnya orderan pementasan.

Budaya latah tampaknya sudah mengakar dari dulu, sehingga makin bermunculanlah grup-grup tarling dangdut karbitan, tanpa pernah benar-benar bergelut dan memahami apa sebenarnya tarling itu. Keadaan seperti itu membuat pakem dasar kesenian tarling semakin mengalami distorsi dan bahkan eliminasi. Maka lahirlah kemudian yang dinamakan tarling dangdut kophlo, disco dangdut, pop tarling, yang pada dasarnya merupakan hasil kompromi dengan selera pasar. Apapun istilahnya, musik-musik organ tunggal saat ini tak tepat bila disebut sebagai tarling, karena itu hanyalah dangdut cirebonan.

Selera Rakyat

Tanpa bermaksud menyamaratakan, kecenderungan kesenian yang berkembang di daerah pesisir memang bisa dikatakan sangat selera rakyat. Kembali memandang sisi historis, wilayah pesisir memang sejak era kerajaan Hindhu-Budha berada jauh dari pusat pemerintahan yang juga merupakan pusat kebudayaan. Jarak yang jauh itu memberi efek signifikan dalam hal kontrol kebudayaan yang biasa dilakukan oleh kalangan keraton di pedalaman, sehingga budaya pesisir lama pun tak begitu terkodifikasi.

Salah satu akibat penting dari itu semua adalah bahwa manusia-manusia yang jauh dari pusat kebudayaan itu lebih mengembangkan kebudayaan berdasarkan kecenderungan naluri mempertahankan diri dan kesenangan, bukan karena insting estetis dan spiritual. Contoh kecilnya adalah kesenian ronggeng dan tari tayub, yang pada masa tertentu menjadi primadona pelampiasan sisi hewani manusia, dari kaum jelata hingga para abdi raja.

Fenomena inilah yang beberapa dekade terakhir ini muncul kembali di wilayah pesisir utara jawa, dengan seni tradisional sebagai media tunggangannya. Seperti kesenian tarling, yang atas nama modernisasi kemudian disesatkan secara identitas maupun jiwanya melalui pertunjukan organ tunggal. Ia tak lebih dari pementasan wanita-wanita pemuas dahaga para pria, meski hanya dengan menyawernya dengan beberapa lembar puluhan ribu dan berjoget bersamanya, atau pun curi-curi mencolek, dan bahkan dalam pertunjukan tertentu bisa menyelipkan lembaran-lembaran fulus itu ke bagian atas badan wanita yang menonjol dengan indahnya berbalut kostum tipis itu.

Serupa ronggeng dan tayub di masa lalu, bisa jadi para penyanyi organ tunggal itu hanyalah reinkarnasi Srintil, sang ronggeng primadona desa Dukuh Paruk, yang merelakan tubuhnya atas nama tradisi dangkal dan tuntutan perut. Modernisasi hanya terjadi pada instrumen-instrumen utama itu: keyboard, pengeras suara, dan kostum. Sementara jiwa tradisinya mengalami kemunduran beberapa abad, karena dasar budaya pesisir yang eksploitatif itu tak pernah hilang: sebuah contoh nyata modernisasi semu. Maka jadilah, karena terlanjur menjadi adat, pertunjukan organ tunggal yang sering kali tidak sejalan dengan tujuan acara beserta audiens-nya itu tetap gencar bergema, tanpa ada budaya kritis. Dan kadar feromon para bapak itu pun semakin memuncak…

- Arif Hulwan Muzayyin -

ttp://www.matakita.net

0 komentar:

Poskan Komentar