Tampilkan postingan dengan label berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label berita. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Januari 2015

Inilah Benda Paling Pusaka di Keraton Kasepuhan Cirebon

 Piring peninggalan Sunan Gunung Jati sebagai barang pusaka keraton Kasepuhan (Randy/detikTravel)


Cirebon - Tiap keraton di Indonesia memiliki nilai adat yang kaya, tidak terkecuali Keraton Kasepuhan di Cirebon. Setiap Maulid Nabi, pihak keraton merayakannya dengan memandikan benda pusaka. Ini dia wujud benda pusakanya.

Bukan keris maupun kereta sakti mandraguna, melainkan sebuah piring dengan kaligrafi Arab. detikTravel ikut hadir pada upacara Panjang Jimat di Keraton Kasepuhan Cirebon, Sabtu malam (3/1/2015) untuk melihat upacara dan benda pusaka secara langsung.

"Benda pusaka Keraton Kasepuhan yang dikeluarkan pada upacara Panjang Jimat ya ini mas, piring bertuliskan kaligrafi Arab yang dibawa langsung oleh Sunan Gunung Jati dari Makkah," ujar Abdi Dalem Keraton Kasepuhan Cirebon, Naskida.

Sejarahnya, Upacara Panjang Jimat dilakukan setahun sekali pada Maulud Nabi untuk memaknai kelahiran Nabi Muhammad SAW. Menjalankan tradisi yang dianut oleh Sunan Gunung Jati, sejumlah persembahan secara simbolik disiapkan untuk mewakili hari kelahiran Nabi.

"Jadi panjang itu adalah piring peninggalan Sunan Gunung Jati, sedangkan jimat itu adalah nasinya atau lauk di atas piring. Ibaratnya manusia makan perlu piring sama nasinya," jelas Naskida.

Dalam ajaran Islam sendiri, panjang juga diibaratkan terus menerus tanpa henti, sedangkan jimat merupakan bahasa Jawa dari 'satu yang dipelihara.' Artinya pun merujuk pada dua kalimat syahadat yang menjadi pegangan utama umat Muslim.

Piring atau jimat Keraton Kasepuhan sudah dikeluarkan dan dibersihkan seminggu sebelum puncak perayaan Maulud Nabi. Setelah dibersihkan, piring akan ditaruh di keranda khusus yang disebut meron dan dondang.

Pada malam Upacara Panjang Jimat, ritual diadakan di Bangsal Prabayaksa dan disaksikan sendiri oleh Sultan PRA Arief Natadiningrat. Upacara dimulai dengan pembukaan, kemunculan pimpinan barisan Abdul Mutholib, perangkat upacara, hingga arak-arakan oleh Abdi Dalem dengan obor menuju ke Langgar Agung.

Total bagian upacara terdiri atas sembilan kelompok. Adapun tiap kelompok tersebut memiliki makna tersendiri yang berkaitan dengan kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Sesampainya di Langgar Agung, sejumlah persembahan beserta piring pusaka dikeluarkan. Jamaah Masjid Agung Sang Cipta Rasa kemudian membacakan Kitab Barzanji sampai tengah malam. Usai doa, persembahan akan dibagikan ke para Abdi Dalem, diselesaikan dengan arak-arakan kembali ke Bangsal Prabayaksa.

Lauk pauk yang merupakan bagian dari 'Tujuh Nasi Rosul' (Randy/detikTravel)
Dondang yang dipergunakan untuk membawa piring pusaka (Randy/detikTravel)
 Pembacaan Kitab Barzanji di Langgar Agung (Randy/detikTravel)




Sabtu, 03 Januari 2015

Festival Muludan Cirebon Masuk Agenda Internasional



 Festival Muludan Cirebon masuk agenda Internasional (Foto: Jakartacitylife)

CIREBON - Even Muludan yang digelar di Keraton Kasepuhan Cirebon akan dimasukkan kalender wisata nasional, bahkan Internasional.
Tahun depan, nama gelaran dilaksanakan jelang Maulid Nabi Muhammad SAW ini diubah menjadi Festival Grebeg Muludan.
Muludan hingga kini mengacu pada semacam pasar rakyat yang digelar di sekitar Keraton Kasepuhan. Muludan dilaksanakan rata-rata sebulan, kemudian digelar tradisi Panjang Jimat. Tahun ini upacara panjang jimat diagendakan 3 Januari 2015.
Sultan Keraton Kasepuhan Sultan Sepuh XIV Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat mengatakan setiap tahun Muludan ramai pengunjung yang tak terbatas dari Wilayah Cirebon. Bukan hanya pengunjung, jumlah pedagang dari berbagai daerah bermaksud menjajakan barangnya bertambah setiap tahun. Dia menyebut, Muludan 2015 menjadi momentum istimewa.
"Tahun 2015 muludan terasa istimewa karena puncaknya berlangsung dua kali setahun, yakni pada 3 Januari serta 24 Desember," katanya.
Keistimewaan itulah yang dijadikan momentum perubahan nama kegiatan menjadi Festival Grebeg Muludan untuk tahun berikutnya. Arief menjanjikan, perubahan nama disertai pembenahan konsep kegiatan tersebut.
Pada Festival Grebeg Muludan, selain diisi beragam jenis dagangan yang biasa hadir akan digelar ekspo aneka produk dari daerah di Wilayah Cirebon, seperti Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, Indramayu, Majalengka, maupun Kuningan. Untuk ini, Arief berkoordinasi dengan pemerintah daerah.
Arief meyakinkan, even muludan berpotensi ekonomi besar dengan prediksi perputaran uang Rp7,5 miliar selama satu bulan pelaksanakannya. Setidaknya seribu pedagang, baik besar maupun kecil, menjajakan barang dagangannya mulai dari produk fashion, makanan, alat-alat rumah tangga, mainan, hingga arena permainan.
Asumsi itu diperoleh dari perhitungan omzet rata-rata pedagang, baik besar maupun kecil yang bisa meraup keuntungan Rp250 ribu/hari/pedagang. Jika terdapat seribu pedagang, maka dalam sehari tercapai omzet sekira Rp250 juta/hari. Nilai itu dikalikan 30 hari atau satu bulan penyelenggaraan muludan, diperolehlah hitungan Rp7,5 miliar.
"Muludan kali ini bertepatan dengan libur sekolah yang berpotensi berdampak peningkatan pendapatan para pedagang 10 persen sampai 20 persen," tambah dia.
Meski perputaran uang besar, dia mengaku pihak keraton dalam kegiatan itu sebatas menyediakan tempat bagi pedagang mendirikan stand. Dengan kata lain, keuntungan finansial yang diperoleh Keraton Kasepuhan selama Muludan hanyalah dari penyewaan lahan.
Keraton sendiri menyewakan lahan untuk setiap pedagang dengan harga beragam, mulai dari Rp100 ribu sampai Rp700 ribu, tergantung luasnya. Total, pihaknya memperoleh sekira Rp250 juta dari sewa lahan pedagang selama sebulan Muludan.
Ditemui terpisah, Kepala Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon Dana Kartiman menyatakan Muludan merupakan even wisata tahunan khas Cirebon yang menyedot banyak orang.
Selain pengunjung pasar muludan itu sendiri, di antara mereka ada pula para peziarah yang mengkhususkan diri datang untuk berziarah ke Cirebon saat Maulid Nabi Muhammad SAW.
"Tahun 2025 Jawa Barat ditarget menjadi objek wisata terbaik Internasional. Untuk itu, menjadi tugas bersama mengemas wisata Kota Cirebon, salah satunya muludan, menjadi lebih menarik," tutupnya.
(jjs)
Sumber :  http://lifestyle.okezone.com/read/2014/12/23/406/1082841/festival-muludan-cirebon-masuk-agenda-internasional


Senin, 01 November 2010

Puluhan Rumah Rusak dan Puluhan Pohon Tumbang, Lalulintas pun Lumpuh

ANDI/"KC"
ANDI/"KC"
DUA buah pohon besar tumbang dikawasan Jl. Siliwangi dan Jl. Kartini Kota Cirebon akibat hujan petir disertai angin kencang sehingga melumpuhkan jalan yang biasa dilalui kendaraan, Senin (1/11).*

CIREBON, (PRLM).- Puluhan rumah rusak dan pohon tumbang akibat hujan dan angin besar yang melanda wilayah Kota Cirebon, Senin (1/11) petang. Selain rumah rusak dan pohon tumbang, banjir juga melanda sebagian wilayah Kota Cirebon. Akibat musibah tersebut, membuat lumpuh hampir semua ruas jalan di wilayah Kota Cirebon.

Puluhan rumah yang rusak berat akibat dihempas angin puting beliung menimpa wilayah RT 04/RW 01 Kebon Baru Utara, Kelurahan Kebon Baru, Kecamatan Kejaksan, Kota Cirebon. Hampir semua rumah yang rusak, terjadi di bagian atap. Satu rumah milik Kadirun bahkan ambruk.

Menurut Ketua RT setempat, Raspani, musibah tersebut terjadi dengan cepat. Sekitar pukul 17.30 WIB, sejumlah warga sempat menyaksikan datangnya angin yang berputar-putar di wilayah mereka. "Karena takut menyaksikan angin yang berputar-putar, sejumlah warga masuk ke rumah. Namun tidak lama kemudian, atap-atap beterbangan," katanya.

Sejumlah warga yang rumahnya rusak, terpaksa mengungsi ke mushala dan mesjid terdekat, karena sampai Senin malam, hujan masih mengguyur wilayah Kota Cirebon dengan derasnya.

Menurut Wahyu, satu-satunya pemilik rumah yang selamat dari musibah angin puting beliung di wilayah tersebut menyatakan, angin yang berputar-putar tiba-tiba berbelok ke arah lain saat mendekati rumahnya. "Ini benar-benar keajaiban Allah, bahwa rejeki dan musibah benar-benar hanya Allah yang menguasai. Satu sisi saya prihatin dengan bencana yang menimpa tetangga, tetapi di sisi lain saya bersyukur rumah saya terhindar dari musibah," kata Wahyu terbata-bata.

Sampai dengan Senin malam, aparat kelurahan setempat masih terus mendata jumlah rumah yang rusak. Menurut lurah setempat, Affandi, sampai dengan Senin malam pukul 19.30 WIB, jumlah rumah yang rusak sementara sekitar 30-an. "Tapi jumlah pastinya, kami belum tahu karena masih mendata," katanya saat dikonfirmasi melalui telepon selulernya.

Wali Kota Cirebon Subardi yang meninjau langsung ke lokasi bencana menyatakan keprihatinannya. Subardi berjanji akan membantu warga sesuai dengan anggaran yang tersedia. "Kami akan mendata dan melihat dulu anggaran yang ada untuk bisa meringankan penderitaan warga yang tertimpa musibah," katanya.

Sementara itu, hampir semua ruas jalan di wilayah Kota Cirebon lumpuh akibat tumbangnya puluhan pohon dan sergapan banjir. Puluhan pohon tumbang terutama di ruas-ruas jalan utama yakni yakni Jalan Siliwangi, Jalan Kartini, Jalan Parujakan, Jalan Tentara Pelajar, Jalan KS Tubun satu, Jalan Veteran.

Pohon tumbang di Jalan Veteran bahkan hampir menimpa bangunan SDN Kebon Baru. Sementara di wilayah Cangkring dari belasan pohon yang tumbang, di antaranya ada yang menimpa mobil yang sedang parkir dan rumah.

Sedangkan di sepanjang Jalan Ciptomangunkusumo, selain dilanda banjir, puluhan lembar seng yang dijadikan pagar pembatas projek pelebaran jalan beterbangan.

Banjir juga melumpuhkan lalu lintas di kawasan Perumnas. Banjir setinggi hampir 1 meter menggenangi jalan di kawasan Perumnas. Selain itu, aliran listrik di sejumlah kawasan padam karena kabel putus, akibat tertimpa pohon. (A-92/das)***

http://www.pikiran-rakyat.com

Pohon Tumbang Halangi Jalan Kartini dan Parujakan

POHON TUMBANG
TRIBUN JABAR/IDA ROMLAH
POHON TUMBANG – Selain banjir, hujan deras disertai angin kencang dan petir yang terjadi Senin (1/11/10) sore menyebabkan pohon di pinggir jalan dekat Stasiun Parujakan Cirebon dan di depan Masjid Raya At-Taqwa Jalan Kartini tumbang.

CIREBON, TRIBUN - Selain banjir, hujan deras disertai angin kencang dan petir yang terjadi Senin (1/11) sore menyebabkan pohon di pinggir jalan dekat Stasiun Parujakan dan di depan Masjid Raya At-Taqwa Jalan Kartini tumbang. Akibatnya, jalan terhalang dan kendaraan tak bisa melintas.

Pohon tumbang itu berukuran besar. Karena itu, ketika tumbang langsung menghalangi semua badan jalan.

Selain menghalangi jalan, pohon tumbang di Jalan Kartini juga mengenai kabel listrik hingga putus. Namun aliran listrik di Kota masih tetap normal.

Hingga saat ini, pohon di Jalan Kartini sudah mulai dipotong dan dibereskan. Jalanan pun akan kembali normal.

Sementara hujan hingga pukul 20.00 ini masih terus mengguyur. Namun intensitasnya tak setinggi sore. Angin dan petir pun sudah tidak ada. (roh)